sejenak bercerita: Berawal dari Mimpi

Saat kuberjalan menelusuri waktu menuju suatu tuju, tiba-tiba saja kakiku terhenti, ketika lihat seorang wanita turun dari sebuah bus ibu kota. Ia mengenakan kerudung dan rok panjang berwarna senada. Bajunya putih mengkilau mata. Aku teringat akan seseorang. Rasa-rasanya kukenal orang ini, seperti yang selalu membayang di hati dan pikirku ini, yang jauh yang selalu kurindui. Ia berjalan ke seberang jalan. Aku masih menyaksikannya sampai ia merogoh sesuatu dari saku bajunya, hendak menukar uang pada orang di hadapannya. Melihat itu, aku tersenyum dan melanjutkan langkah sambil bertanya pada diri, “Apakah itu dia?!”

Dari belakang, pundakku serasa ada yang memegang. Tanpa banyak kata ia sodorkan sejumlah uang. Aku heran, “Hey, maksudnya apa ini?!” panggilku pada orang yang sudah lari entah ke mana hilang dari pandangan.

Kumenoleh ke belakang. “Itu uangmu ada padanya!!” teriak seseorang yang berada tak jauh dari wanita yang tadi kulihat. Kukibas-kibas uang itu, maksudku agar ada yang datang menghampiriku. Beberapa orang datang, disangka aku ini adalah pencopetnya. “Ehh.. kembalikan uang itu..!!” ucap seseorang. “Sebentar, sebentar akan kujelaskan..” jawabku. Wanita itu menatapku, aku pun menatapnya. Aku malu, bajuku lusuh saat itu. Pada akhirnya orang-orang itu mengerti juga akan penjelasanku. Lega rasanya perasaanku, terhindar dari sangka dan praduga. Uang itu pun berpindah dari tanganku ke pemiliknya.

Balik kanan, langkah kembali kulanjutkan. Wanita itu mengikutiku, “Heyy.. tunggu..!” ucapnya lembut. “Yaa, ada apa??” jawabku seraya tersenyum. “Maaf atas kejadian tadi,” ucapnya lagi. “Tak apa, hal seperti itu biasa terjadi,” kataku. “..Hmm, Kak. Bisa betulkan handphoneku ini?” ucapnya. Aku merasa bingung tambah heran, kok begini?, kok begitu?, mengapa tiba-tiba saja ia demikian? Seakan ia sudah tahu akanku, kapan aku bertemu dengannya? Entah di mana? Entahlah..! tanya bergelayut dalam pikiran. “Ehh.. kok malah bengong..! halo..!!” ucapnya terdengar samar. “Mm.. Bisa. Bisa, boleh. Kita duduk di sana,” ucapku sambil tunjukkan tempat didekat bunga-bunga yang sengaja ditumbuhkan di pinggiran jalan.

Canda tawa terlontar, seakan aku sudah akrab, lama kenal dengannya saja. Begitu juga dengannya. Tak canggung padaku. Entah candaan apa, aku juga lupa, tak lagi kuingat. Lalu, aku duduk berdampingan dengannya di dekat bunga di samping kantor polisi yang bersebelahan dengan lapangan sepak bola.

Tatapan mata ini tertuju pada sebuah handphone. Jemari menari-nari diatasnya. Tak perlu menunggu lama, handphone itu pun berfungsi juga seperti sedia kala. Ia keluarkan laptop dari tas miliknya dan mulai ia nyalakan. Kulihat sederet icon shortcut juga bunga melati putih menghias desktop background monitor itu. Kuberikan handphone itu padanya. Tanpa sengaja tanganku menggenggam jemari tangannya. Lalu kulepaskan tanganku sambil katakan “Maaf..” Ia hanya tersenyum teduh meneduhkan hatiku seperti cuaca hari itu yang memang teduh selepas rintik hujan berhenti beberapa jam lalu.

Mataku melirik ke arah kanan, sejenak memetik 2 tangkai bunga putih lalu kuberikan bunga itu padanya, pada wanita yang sedari tadi di sampingku. “Ini untukmu..” kataku. “Makasih.. Hmm.. bunga yang indah..” ucapnya menyukainya. Pipinya pun nampak memerah.

Beberapa saat kemudian, lalu ia berdiri. “kejadian ini akan saya ingat, kan saya ceritakan pada teman-teman. Kak, saya pergi dulu, mau ke rumah saudara..” ucapnya dihias senyuman. Aku pun berdiri mempersilakannya. Mataku menatapnya, masih menatapnya. Ia tak bisa hilang begitu saja dari pandanganku. Sesampai ia bertemu dengan saudaranya, entah tantenya, entah sepupunya yang berada di halaman rumah yang tak begitu jauh dari tempat kami duduk tadi, saat memandangi jalan raya di mana mobil dan motor adalah warganya.

Hari mulai terlihat gelap, aku tak jadi ke suatu tempat. Kulangkahkan kaki, kembali menuju rumah. Rasa senang menyelimuti hati. Namun ada yang kurang kurasakan, sayang aku lupa tanyakan namanya tadi, dan mengapa ia juga tak tanyakan namaku?! Hmm.. tak apa lah.

“Cinta sudah ada yang mengaturnya,” ucapku.

Aku tersadar, kok begini? apa ini nyata? pikirku. Aku larut dalam keheranan. Ini nyata sungguh terasa nyata, namun ini sungguh bukanlah suatu kejadian nyata. Ini hanyalah mimpi, bunga tidurku di dini hari, di saat fajar hendak menyapa pagi.

Aku sadar ini bulan Rabiul Awal, namun aku belum tersadar seutuhnya. “Kok ini seakan bagian cerita dalam tulisanku yang belum terselesaikan itu. Yaa, adegan saat bunga melati putih yang diberikan pada seorang wanita, memang ada dalam ceritaku.

Aku tau, aku harus segera menyelesaikannya. Mimpi ini seakan menyuruhku untuk segera melanjutkannya. Seperti saat-saat lalu, saat masalah hukum berkecamuk, juga ketika kutonton tayangan Tatap Muka tvOne, sebuah acara yang dibawakan Farhan, dimana menghadirkan Cinta, purti dari Uya Kuya. Sungguh, ini kembali mengingatkanku. Ternyata nama lengkapnya itu Cinta Rahmania Putri yang baru kuketahui, nama itu persis seperti sebuah nama tokoh yang ada dalam ceritaku, Nindya Rahmania Putri.

Hidup ini unik, begitu pula dengan mimpinya, Subhanallah. Dan kini aku mulai menyadari, mimpi itu adalah ilmu juga.

Mataku terbuka, kini aku benar-benar sadar, tadi itu adalah mimpi. Kulihat keluar kamar, jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 04.05 am lebih kurang. Aku kembali duduk terdiam di pinggir ranjang.

“Unik..” ucapku seraya tersenyum. Lalu berdiri, berjalan menuju kamar mandi, sejenak mengguyur muka dengan air di sejuk pagi, berwudhu jernihkan hati, menunggu adzan penggetar hati.

nb:
cerita ini nyata, namun tak nyata.. 🙂
cerita ini adalah benar mimpiku, bunga tidurku di hari kemarin setelah kemarin lusa.. [dengan sedikit perubahan tentunya] 😛
ditulis pada tanggal 25 Pebruari 2010 [kalo gag salah mah..]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s