Menjelajah Alam, katanya. – writers4indonesia

Menjelajah Alam, katanya. – writers4indonesia

Masih ingat dengan writers4indonesia waktu itu?

Beginilah tulisanku di writers4indonesia #empat.

cekidot..

~

Menjelajah Alam, katanya.

Aku bersama kawan sewaktu SD dulu dan masih sekampung pula. Tiba-tiba saja kami terseret ke dimensi lain seakan menjelajah mesin waktu seperti halnya dalam telenovela Amigos (mungkin, lupa lagi) yang sempat disiarkan salah satu tv swasta sekitar sebelasan tahun silam, dan rasa-rasanya pernah kutonton episode demi episodenya. Hm, jadi ngebahas telenovela, hahay, kembali ke cerita woy.
Hening memang, kami seperti berada di kota mati, tak ada candaan yang berarti menyapa kami. Sapaan anak-anak SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) seakan hambar, sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi sengaja disembunyikan di balik mimik wajah mereka. Harus segera kucari tahu, walau memang aku ini bukanlah seorang Polisi ataupun Detektif, aku hanya alumni SMK itu meski hanya lima bulan saja aku di sana hingga belum tahu benar tentang sekolahan itu.
Berlanjut pada penelusuran yang tak sebegitu mendalam, di saku bajuku telah kukantongi satu nama, sebutlah saja ia Charinna. Sebuah nama yang mendadak menjadi tak boleh lagi disebut-sebut, diperbincangkan, diucapkan. Seperti halnya sosok Mary Shaw dalam film Dead Silence dengan seratus bonekanya itu.
“Gila, kok bisa sampai sedemikiannya,” ucapku mengheran.
“Memangnya ada apa dengan nama Charinna? Toh itu hanya sebatas nama saja kan?” ucapan kawanku seketika disambut awan hitam dan petir menggelegar memecut bumi.

“Astaghfirullah,” kami terperanjat.
“Kaget sangat gue,” ucap kawanku.
Perjalanan hari itu cukup. Aku lantas pulang melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Mengetik ulang sebuah naskah cerita milik guruku saat sekolah dulu.
Kuregangkan sejenak jari jemari yang kaku terasa, “Selesai, Pak. Print sekarang?”
“Nanti saja. Sekarang ikut Bapak!”
“Ke mana?”
“Menjelajah alam.”
“Alam gaib, alam nyata, atau alam ‘mbah dukun’ kah?”
“Euh, ya alam nyata donk. Namun bisa jadi bersinggungan dengan alam gaib. Mungkin nantinya ada hubungannya dengan kasus yang sedang kau tangani.”
“Waah, tantangan seru nih. Serasa Detektif sungguhan aku. Ayo lah! Sebentar Pak, saya bereskan kertas-kertas ini dulu.”
“Ditunggu di depan secepatnya.”
“Okeh..”
Tantangan kembali menyapa, aku datang menyambutmu penuh tanya. Apakah yang akan terjadi sebenarnya?
“Ah, beres-beres dulu yang ini sebelum membereskan hal yang belum juga beres. Menjelajah alam, katanya. Hmm, asyik sepertinya.”
Aku bersiap untuk mencari gambaran, mungkin. Juga fakta, mungkin. Sambil kukenakan jaket, tanganku nyangkut meraih apel hijau dan jeruk besar yang tergeletak di atas meja. Aku memang belum makan nasi sejak tadi, hanya saja sudah melahap kupat tahu dua porsi ditambah sekarang buah penutup apel hijau itu kucicip sebelum berangkat keluar dari gedung kantor, lumayanlah sedikit menambah Vitamin C, nutrisi pertahanan tubuh sebelum bertempur. Sedang buah jeruk kumasukkan di balik jaket, biar nanti kumakan saat berada di luar sana. Aku segera menyusul guruku.
“Ke mana, Pak?” tanya yang sama kuajukan tuk kedua kalinya.
“Menjelajah alam.” jawabannya tetap sama seperti sebelumnya.
“Bikin penasaran saja,” ucapku.
“Surprize,” ucapnya tersenyum.
Perjalanan menuju tempat yang belum kutahui itu, kami tempuh cukup hanya dengan berjalan kaki, sesekali menelusuri pinggiran sawah yang menghijau. Burung pipit juga menampakan diri hendak menyapa kami berdua. Hm, walau agak jauh memang, itung-itung olah raga sore, plus menghirup sejuk udara sejenak. Sampai setibanya di tempat itu, aku belum tahu maksudnya. Aku belum merasakan apa-apa, dan memang tak ada prasangka apa-apa.
Aku bertanya pada guruku, “Pak, sebenarnya mau apa sih Bapak ke sini?”
“Mau bertemu teman lama, yang bekerja ngurusin ni tempat.”
Gerbang terbuka, dan kami mulai memasuki ruang yang berbeda. Tempat itu dipenuhi bangunan seperti bekas penjajahan Belanda, bangunan tinggi, kokoh bertembok tebal. Eksotis memang, keindahannya masih bisa kusaksikan saat senja menyapa, langit menguning keemasan dan pada akhirnya memerah. Hari menuju gelap, sekarang baru aku rasakan bulu kudukku mulai berdiri, merinding, rasa takut mulai merasuk, jiwa malam hendak menusuk.
Aku saksikan guruku masih mengobrol dengan kedua penjaga itu. Sedang aku tak ikut-ikutan larut dalam obrolan mereka, hanya berdiam diri di luar di balik sekat kaca. Memandang jauh ke langit sana yang sudah hampir menghitam, mencengkeram, mencekam keadaan. Obrolan mereka mulai longgar, aku menghampirinya dan berkata, “Pak, saya mau pulang sekarang saja.”
“Katanya kamu perlu tantangan. Ya nggak usah pulanglah, kita nginap saja di sini. Bagaimana?”
“Iya, nginep aja. Sudah malam,” tambah seorang penjaga tempat itu.
Aku tak mampu menjawabnya dengan perkataan, yang ada hanya senyum dan cengengesan gak karuan sebab takut terus berkecamuk. Lagi-lagi takut.
“Kalau Adek sudah ngantuk biar saya tunjukkan sebuah ruangan untuk tidur,” ucap si penjaga tempat itu.
“Biar saya saja yang mengantar. Saya akan tunjukkan tempat yang paling bagus,” ucap guruku meyakinkan. “Sudah mengantuk? Mau tidur sekarang?” lanjutnya lagi.
“Iya deh,” jawabku singkat-singkat saja.
Ia beranjak dari tempat duduknya, segera menunjukkan ruangan yang pas untuk melepas lelah.
“Ini tempatnya, ada tungkunya. Jika hawa malam mulai terasa dingin, nyalakan saja.”
“Siap, siap, sipplaaahh,” padahal dalam hati sungguh bertentangan seakan berucap, “Aku ingin segera pulang. Di sini serasa aku sudah mati.”
Ya, memang, seperti yang guruku katakan, sebuah tantangan. Aku kembali menegaskan pada diriku sendiri, tantangan saja. Seakan sedang shooting dalam sebuah program pertelevisian Scary Job untuk menguji dan mengalahkan rasa takut, atau mungkin program Masih Dunia Lain. Entahlah, yang jelas benar sangat kurasakan takut akut extraordinary.
Selepas itu, guruku pergi meninggalkanku sendirian saja di tempat yang mungkin ‘berpenghuni’ memancarkan aura supranatural.
“Gillakkk..!” teriakku di hati terdalam.
Malam semakin berangsur menuju puncaknya, sejajar dengan takutku yang mendekati titik didihnya. Sebuah frekuensi suara samar terdengar entah bersumber dari mana. “Hayy, aku di sini, hihii, hiii,” suara itu, suara penggertak hati membisik.
“Gillakkk…!!” teriakku dalam hati, tak kuasa kubuka suara.
Clik, clik, clik. Clakk. Suara air kran menerjun perdetik. Sreekk.. Blugg..! Jendela belakang tertiup angin seakan dibanting kencang sekenanya.
“Aeuughh..!!” aku tak bisa tutup mata. Raga mengkaku seakan aku dihadang belasan jin saja rasanya, mungkin.
“Apa harus berdiam saja dikalahkan rasa takut? Aku harus segera berdiri beranjak keluar sejenak, jika tak mau mati keselek kerikil-kerikil pemusnah keberaniku,” kataku masih dalam hati.
Namun sayang, aku tak mampu. Kakiku lemas terperas rasa takut. Akhirnya kubergeser ngesot. Sepertinya bakal ditertawakan suster ngesot profesional bahkan amatir sekalipun, karena kuakui betul ngesotku tak sebegitu sempurna, sesuai dengan buku panduan ‘ngesot ala suster’ pun masih jauh.
Hampir seperempat jam, mungkin. Akhirnya tubuhku berada di luar ruangan itu. Duduk dekat bibir pintu sebelah keset yang tak pernah lagi tersentuh air sepertinya.
Aku lelah, aku lelah dengan rasa takut ini. Aku nyerah, apa aku harus menyerah? Nafasku kini dapat sedikit diatur tak seperti di dalam ruangan tadi. Kugeser keset berdebu itu, mengintipnya dengan hati-hati, ada apa di balik keset itu? Aku kaget, setengah hampir mati lebih dikit terkaget, terperanjat.
“Gilakk..!!!” lagi-lagi kata seperti itu yang kuucap namun tak lagi dalam hati. “Gilakk.. Beneran gilaakk..”
Sebuah potret close-up usang hitam putih sepia seukuran F4 dibagi dua. Potret wajah wanita yang cukup menyeramkan itu terlihat jelas begitu seram setelah tersinari rembulan separuh penuh yang kadang tertutupi awan kelabu hitam putih. Coba saja kalau seandainya malam itu pas bulan purnama, mungkin manusia serigala muncul menampakkan jati dirinya mulai mencabik-cabik keberanianku -kebanyakan nonton film si aku- dan akan semakin memperparah mempermalukanku atas rasa takutku. Kuambil, kuamati lebih jelas, ketelitian setingkat peneliti ahli forensik. Di dasar potret itu tertulis abjad arab dan abjad latin. Huruf mim, alif dan ta tersambung dibaca ‘MATI’ yang berada di sudut kanan bawah. Dan di tengah potret itu bertuliskan ‘BUNUH DIRI’. Seketika, kulempar itu photo entah ke mana arahnya.
Tubuhku kini semakin lemas oleh rasa ketakutan. Aku menyerah, apa aku harus menyerah? Kurogoh jaket sejenak mengambil jeruk yang sedari tadi kubawa. Semoga bisa sedikit menenangkan tubuh dan perasaanku, Bismillah. Kini aku bisa tidur tenang tanpa diganggu rasa takut, mungkin. Mungkin? Yaa, mungkin.
Aku berjuang melawan waktu yang berilusi, berhalusinasi. Hingga pekatnya malam ditarik perlahan oleh fajar sebenarnya. Terbangun aku dalam dingin kering yang menyelimuti, dan keringat yang mengendap hampir saja membeku. Sekarang aku kuat berdiri, beranjak, melupakan kejadian semalam sejenak.
Singkat cerita, matahari telah terbuka seutuhnya. Menjamu dengan ramuan berbagai sinarnya. Dengan wajah fresh dan tubuh segar kami menyongsong pagi dengan masih menyisakan tanya bagiku sendiri.
“Bagaimana kejadian semalam?” tanya guruku beberapa meter dari bangunan itu setelah kami berpamitan pulang.
“Cukup mengasyikan,” ucapku sembunyikan fakta sebenarnya.
“Ah yang benar?” tanyanya sambil berjalan.
“Ya mengesankan.”
“Masih berkesan?” tanya guruku.
“Memang agak menakutkan. Komposisi bumbunya pas menakutkan. Aku takut, namun sekarang aku bisa mengakalinya,” jawabku sambil menelan jeruk sisa semalam hampir saja dengan kulitnya.
“Hm, baguslah. Perlu diketahui, tempat itu dulunya adalah sebuah penjara Belanda. Tak sedikit orang yang menderita, terbunuh, dibunuh di sana, bahkan bunuh diri, dan..” ia berhenti berkata, lalu melanjutkan ucapnya, “Dan, tempat itu sempat pula dijadikan sekolah kejuruan. Namun, dua tahun setelah peresmian, sekolah pun ditutup.”
“Alasannya?”
“Terlalu banyak yang bisa dijadikan sebagai alasan sebenarnya. Mulai banyak hal-hal aneh terjadi dan kerap kali terjadi. Siswa semakin terganggu tak betah. Begitu pula halnya dengan guru-guru saat itu. Mereka diganggu makhluk halus yang sengaja menakut-nakuti manusia. Karena manusia selalu saja mengkhayal yang tidak-tidak. Apalagi setelah terjadi pembunuhan, juga seorang siswi yang bunuh diri, selang sebulan setelah kejadian pembunuhan itu.”
“Ohh, begitu. Waahh,, parah..”
“Apakah yang kamu temukan di ruangan itu? Hanya kegelapan dan suara aneh kan?”
“Iya, kegelapan, kegundahan, rasa takut luar biasa dan suara perempuan ‘hay, aku di sini, hii, hihii’ buatku merinding sangat.”
“Mm. Apakah kamu temukan sebuah photo perempuan di balik keset depan pintu?” ia tersenyum namun serius, raut wajahnya juga memucat.
“Kok Bapak tau? Iya, saya temukan selembar photo.”
“Ketahuilah, photo itu akan tetap berada di sana sebelum bangunan itu dijadikan musium yang entah kapan.”
“Photo itu telah aku lempar entah ke mana.”
“Photo itu akan tetap berada di sana, akan tetap berada di sana.”
“Waa, horror juga tu tempat.”
“Mm, tahukah kamu bahwa yang dibilang tadi barusan itu tidaklah sepenuhnya benar?”
“Jadi yang tadi dikatakan itu bukanlah yang sebenarnya tentang keadaan tempat itu?”
“Benar, yang Bapak katakan tadi bukanlah tentang keadaan tempat itu, namun lebih ke hal tentang ketakutanmu yang teramat berlebihan. Itu akan sangat membahayakan bagi dirimu sendiri. Lawanlah rasa ketakutanmu yang berlebihan itu dengan takut pada Yang Maha Satu.”
“Iya, Pak.”
“Bangunan itu memang dulunya penjara. Dan soal sekolah. Memang tempat itu pernah di jadikan sebagai sekolah, namun bukanlah karena ada hal aneh di luar nalar manusia yang terjadi di sana, dan bukan pula karena ada seorang siswi yang bunuh diri, itu semua tak ada. Yang benar Sekolah Kejuruan itu di pindah ke bangunan sekolah baru, almamatermu sekarang.”
“Lalu, apakah suara misterius itu juga rekaan?”
“Yaa, itu adalah suara yang keluar dari speaker yang sengaja dipasang di atap ruangan itu.”
“Photonya?”
“Photo bisa dimanipulasi. Begitu pula dengan barang-barang yang berserakan di sana sudah ditata rapi agar memunculkan kesan seram, seru dan menyuram.”
“Ternyata itu semua cuman boongan?? Lega aku, sangat-sangat lega.”
“Apakah kamu sekarang merasa tak takut lagi?” tanya guruku.
“Tidak. Tak merasakan takut sama sekali.”
“Baguslah. Lebih baik bagimu. Namun itu belum selesai, bagaimana kalau kejadian semalam itu tanpa rekayasa? Benar-benar tiada rekayasa. Cerita tentang pembunuhan, tentang siswi yang bunuh diri itu benar adanya? Tempat yang menakutkan. Penjara yang teramat menyakitkan pada jaman dulu. Dan itu masih membekas. Nak, tahukah kau siapa nama siswi yang bunuh diri itu? Tahukah kamu??”
“Apa ia Charinna?!”
“Yaa, tepat. 100 buat anda, 101 buat saya.”
“Dalmatians dong Pak. hehee.” Aku tertawa kecil, namun seketika berhenti saat melihat raut wajah guruku.
“Gadis itu memang Charinna. Charinna, putri Bapak.”
Mendengar nama itu, bulu kudukku berdiri tegang. Siang itu pun langit mendadak gelap pekat, matahari tak nampak batang hidungnya, karena memang matahari tak punya hidung.
“Nak, tahukah kau saat semalam kita bertemu siapa?”
“Penjaga tempat itu kan?” tanyaku mulai gemetar. Aku terdiam dan menatap guruku.
“Bukan, mereka itu tak ada, tak pernah ada,” ucapnya.
Hawa gerah dahsyat bercampur ketakutan yang kembali melambung. Aku tertunduk dalam perjalanan dan melangkah mendahuluinya.
Ia kembali berkata,” Tahukah kamu, bahwa kamu saat ini, sekarang, sedang bicara dengan orang yang juga tak ada?”
“Ah, Bapak jangan kembali menakuti saya,” kataku segera menoleh ke arahnya. Ia ada.
“Bapak telah lama tak ada, Nak. Telah lama tiada. Engkau sedang bicara dengan siapa? Aku mati karena ketakutan,” ucapnya agak berbisik semakin menggugah rasa takutku tumbuh berkembang.
Aku masih tertunduk. “Ah, ini kan siang. Aah, jangan bercanda, Pak. Inikan siang, jangan takuti saya,” kataku.
“Aku telah tiada…” bisiknya.
“Aku telah lama mati…” bisiknya mendesah.
“Aku mati karena ketakutan… Aku mati karena ketakutan… Nak, aku mati ketakutan…” bisiknya lagi merintih.
Serentak aku menoleh. Ia tak ada. Ia benar-benar tiada. Lenyap, hanya kosong yang tertemui.
Pandangan kabur, bibir kelu, nafas seakan tak juga terhirup, “Mungkinkah lubang hidungku mengecil? Atau hidungku memesek?” kata hatiku, sambil kuraba hidungku. Langit gelap gulita, guntur bergemuruh, angin meleok berhembus kencang yang sesekali menepuk pundakku.
“Gii.. gii.. huh.. hah.. giil.. ge-i-gi-el-a-la-ka.. giiillaaakkkk…!!!” aku teriak dan lari sekencangnya. Aku takut. Aku takut. Aku benar takut. Ouwh, sial. Ada kodok loncat hampir saja terinjak, ngek.
Aku TAKUT. Aku sangat TAKUT.
Apa aku akan MATI karena KETAKUTAN??!!
###
-a-Be-i-eS-ABIS-

_dz

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s