Pesona Negeriku, Kawan

Pesona Negeriku, Kawan

// Cerita Fiksi ini sempat saya kirim buat event #TulisNusantara 2012, namun sepertinya jauh dari tema. Silakan kalo mau baca. //

 “Ya, aku masih ingat.”

~ ~ ~

“Amih, Apih, mana kameranya? Ade mau foto-foto lagi nih!” aku lari tergesa-gesa dan hampir saja menginjak anak ayam tetangga.

“Cepetan Amih,” ucapku di depan pintu rumah sambil melempar tas yang kugendong itu ke kursi. Kuhampiri ayah dan ibu untuk mencium tangannya dan beruluk salam. Begitu kelakuanku setiap hari sepulang sekolah, teriak-teriak tak jelas dan meminta kamera.

“Sebentar, lagi diambilkan oleh kakak,” ibuku menenangkanku.

“Lho, kakak ngak sekolah?” tanyaku pada ibu.

“Kan kakak masih sakit, Dek,” jawab ibuku.

“Iya, Dek. Masih agak demam,” ucap kakak sambil memberikan kamera itu padaku, “Ini Dek, hati-hati yah.”

“Iya, Kak. Semoga cepet sembuh ya, Kak.”

“Iya, Adikku yang bandel.”

“Ya udah deh Ade maen dulu. Daah.”

Sesampai di daun pintu, “Eh, kelupaan, ganti seragamnya dulu ah biar gak kotor.”

Ibu dan ayah hanya senyam-senyum melihat tingkahku seperti itu.

“Jangan lupa makan dulu ya, Nak. Ya udah, Apih tinggal dulu mau lihat kebun.”

“Oke, Apih.” Aku pergi mengganti seragam SDku.

Hawa segar harum pedesaan, aroma renyah yang biasa kuhirup tatkala siang bercahaya mentari berpanas sedang. Riuh batang bambu menari, dedaunan pohon melayang terjun bebas tanpa parasut pengaman, bunga layu bermekaran berbisik nyanyian. Gerak itu, suara itu, citra itu membuat diri ini betah berdiam lama, nyaman berdekat alam.

Aku masih berdiri di atas tanah ini, berdiri di pekarangan dekat pohon cabe rawit yg baru bermekaran bunga ada satu dua yang sudah berbuah, ku potret ia. Ini baru permulaan. Baca lebih lanjut