Sampingan

Artis Kesepian

Artis Kesepian

Aku bukan penulis
Pun bukan sutradara
Berpikir praktis layaknya mereka bermetafora
Berlakon dan ikuti aturan mainnya
Itu lebih baik, lebih baik begitu
Kita hidup punya aturan
Kita diberikan panduan
Juga manual book kehidupan

Aku hanyalah pemain
Aku adalah pelakon cerita
Akulah aktor di kehidupanku sendiri
Aku pelukis dan aku musisi
Inilah aku, seniman
Artis kesepian

Peranku kadang manis
Peranku sesekali mistis
Bisa melankolis, sinis hingga sadis
Miris, meringis dan menangis
Mengemis-ngemis
Pernah pula berkumis
Sampai harus berkudis
Berharmoni dinamis
Jadi pesimis serta optimis
Mengilustrasi jejak terlukis

Aku lah artis
Adalah aku, artis
Aku artis kesepian
Tepatnya artis narsis kesepian
Pelakon kehidupan

_dz
#puisi.kehidupan 🙂
23.10.2012 09.13

http://kompasiana.com/b503173
http://kemudian.com/node/270642

Menjelajah Alam, katanya. (agak horor)

Menjelajah Alam, katanya. (agak horor)

Aku bersama kawan sewaktu SD dulu dan masih sekampung pula, Dik-dik namanya. Tiba-tiba saja kami terseret ke dimensi lain seakan menjelajah mesin waktu seperti halnya dalam telenovela Amigos (mungkin, lupa lagi) yang sempat disiarkan SCTV sekitar sebelasan tahun silam, dan rasa-rasanya pernah kutonton episode demi episodenya. Hm, jadi ngebahas telenovela, hahay, kembali ke cerita. Hening memang, kami seperti berada di kota mati, tak ada candaan yang berarti menyapa kami. Sapaan anak-anak SMK (almamaterku dulu) seakan hambar, sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi sengaja disembunyikan di balik mimik wajah mereka. Aku harus segera mencari tahu, walau memang aku ini bukanlah seorang Polisi ataupun detektif, aku hanya alumni SMK itu meski hanya lima bulan saja aku di sana hingga belum tahu benar tentang sekolahan itu.

Berlanjut pada penelusuran yang tak sebegitu mendalam, di saku bajuku telah kukantongi sebuah nama, sebutlah saja ia Charinna. Sebuah nama yang mendadak menjadi tak boleh lagi disebut-sebut, diperbincangkan, diucapkan. Seperti halnya sosok Mary Shaw dalam film Dead Silence dengan seratus bonekanya itu.

“Gila, kok bisa sampai sedemikiannya,” ucapku mengheran.

“Memangnya ada apa dengan nama Charinna? Toh itu hanya sebatas nama saja kan?” ucapan kawanku seketika disambut awan hitam dan petir menggelegar memecut bumi. Baca lebih lanjut