Menjelajah Alam, katanya. (agak horor)

Menjelajah Alam, katanya. (agak horor)

Aku bersama kawan sewaktu SD dulu dan masih sekampung pula, Dik-dik namanya. Tiba-tiba saja kami terseret ke dimensi lain seakan menjelajah mesin waktu seperti halnya dalam telenovela Amigos (mungkin, lupa lagi) yang sempat disiarkan SCTV sekitar sebelasan tahun silam, dan rasa-rasanya pernah kutonton episode demi episodenya. Hm, jadi ngebahas telenovela, hahay, kembali ke cerita. Hening memang, kami seperti berada di kota mati, tak ada candaan yang berarti menyapa kami. Sapaan anak-anak SMK (almamaterku dulu) seakan hambar, sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi sengaja disembunyikan di balik mimik wajah mereka. Aku harus segera mencari tahu, walau memang aku ini bukanlah seorang Polisi ataupun detektif, aku hanya alumni SMK itu meski hanya lima bulan saja aku di sana hingga belum tahu benar tentang sekolahan itu.

Berlanjut pada penelusuran yang tak sebegitu mendalam, di saku bajuku telah kukantongi sebuah nama, sebutlah saja ia Charinna. Sebuah nama yang mendadak menjadi tak boleh lagi disebut-sebut, diperbincangkan, diucapkan. Seperti halnya sosok Mary Shaw dalam film Dead Silence dengan seratus bonekanya itu.

“Gila, kok bisa sampai sedemikiannya,” ucapku mengheran.

“Memangnya ada apa dengan nama Charinna? Toh itu hanya sebatas nama saja kan?” ucapan kawanku seketika disambut awan hitam dan petir menggelegar memecut bumi. Baca lebih lanjut